Oleh I Wayan Dirgayusa
Dulu ketika masih sma saya memahami bahwa mahasiswa merupakan sesuatu yang terkesan inovatif, kritis dan cerdas baik dalam akademis maupun non akademis. Terlihat sangat gagah dengan jas almamater yang menjadi ciri khas universitas tertentu, selalu menghadapi suatu permasalahan secara obyektif berdasarkan hasil analisa maupun buah pemikiran yang brilian dan tidak main – main. Selain itu tampak berdedikasi juga dalam mencermati suatu keadan, mampu bertindak kritis namun tentunya didasari atas pemikiran yang logis.
Namun sekarang ketika saya sudah menjadi mahasiswa, itu semua sangat jauh dari kenyataan. Rasa – rasanya saya hanya diproyeksikan untuk menjadi boneka mainan intelektual dari pihak yang memiliki otoritas lebih dalam dunia kampus. Memang terkadang pemikiran dan idealisme mahasiswa terlampau tinggi dan rumit sehingga membuat mereka yang sedang dengan santainya duduk di kursi yang empuk rada terganggu. Tapi tanpa itu semua saya yakin dunia kampus hanya akan berjalan monoton begitu saja bahkan akan mengalami stagnasi, ingat republik ini ada karena adanya campur tangan kalangan muda untuk menghadapi penjajah yang masih serakah mengeksplorasi negeri ini. Dari orde lama hingga reformasi mahasiswa juga menjadi salah satu pemicu terjadi perubahan besar – besaran di Indonesia.
Nampaknya menyadari pengaruh yang sangat besar dari mahasiswa, pihak petinggi kampus khususnya bidang kemahasiswaan menyadari bahwa cepat atau lambat ini akan mengganggu (kemungkinan) sesuatu hal yang sudah mereka rencanakan. Mulai dari pembatasan kegiatan berorganisasi (normalisasi kampus) sehingga mahasiswa hanya disuruh belajar dan belajar dengan diteror bahaya D.O jika membangkan. Sungguh ironis, bangsa yang sudah merdeka sepertinya kembali dijajah, bukan adanya campur tangan secara fisik dari pihak asing melainkan bangsanya sendiri. Jika saja Bung Sjahrir, Soe Hok Gie, bahkan Bung Karno tahu apa yang telah terjadi dengan anak cucunya saya yakin didalam liang kubur beliau akan menangis tanpa air mata.
Contoh kecil kalau saya bisa katakan sebagai praktik pembunuhan karakter terhadap mahasiswa adalah ketika salah satu organisasi kemahasiswaan di universitas paling terkemuka di Bali mendapat teguran (yang serayanya dianggap sebagai intervensi) untuk segera melenyapkan infrastruktur yang notabene aset organisasi dan alat yang banyak menghasilkan atlet – atlet berprestasi dari areal kampus dengan alasan yang kurang dapat diterima, yakni meresahkan masyarakat kampus dan untuk kebutuhan tata ruang kampus. Padahal bangunan itu sudah ada sejak era tahun 1990an sampai sekarang dan tidak terjadi apa – apa.
Sebuah tanda tanya besar yang patut kita berikan kepada pihak kemahasiswaan dan biro kemahasiswaannya terlebih kepada rektor yakni “mengapa baru sekarang sibuk menyuruh pengurus organisasi tersebut untuk membongkarnya, kenapa tidak dari dulu kalau disinyalir meresahkan kehidupan kampus”. Memang kalu saya rasa perubahan zaman dan kondisi lingkungan sosialnya juga yang memaksa mahasiswa dewasa ini tidak memiliki jiwa pemberontak terhadap yang semena – mena dan pola pikir yang kritis dalam menanggapi suatu permasalahan. Mereka lebih nyaman dengan kondisi yang instan, menghabiskan waktu dengan pasangan (pacar) dan nonton tv dengan bobot yang lebih besar daripada mengerjakan tugas kuliah ketimbang berorganisasi dan melakukan hal – hal yang positif seperti berolahraga dan berkegiatan yang berorientasi kepada lingkungan hidup dan masyarakat.
Tetapi saya masih memiliki keyakinan yang tinggi terhadap masa depan mahasiswa kita, masih ada jiwa – jiwa pemberontak seperti yang dimiliki Soe Hok Gie dan Che Guevara, masih banyak yang memiliki pola pikir yang kritis seperti Sjahrir dan Soekarno. Tinggal sekarang bagaiman pihak kampus menyikapinya, jangan hanya memenjarakan mereka dengan beban kuliah yang terlampu berat dan rumit. Tetapi setidaknya berikanlah secerca harapan untuk menyalurkan idealisme – idealisme brilian mereka untuk melengkapi eksistensinya di Bumi dan jangan seolah – olah menjadikan kenyatan mimpi buruk Bung Karno tentang negeri yang dijajah oleh bangsanya sendiri,
“Mari Kepalkan Tangan dan Maju Kedepan, Karena Hanya Ada Satu Kata Untuk Penindasan : LAWAN!!!”
- MAHATMA GANDHI-
One Response to “Ketika Idealisme dan Kreativitas Mahasiswa Dipenjara Oleh Kolotnya Kampus”
Leave a Reply








September 24th, 2008 at 11:29 am
Ini pasti mengenai papan panjatnya Mapala Unud ya ??!!!
Gimana sih PR 3 nya, dari taon 97 kok programnya cuma menggusur UKM ya ???
tapi paling PR 3 bilang gini:
Bukannya ingin menggusur UKM, hanya saja sekretariat UKM letaknya tepat di lokasi proyek yang memberikan keuntungan terbesar untuk pejabat UNUD
Jadi mohon dipahami, kan mahasiswa hanya 4 tahun, sedangkan guru besar seperti saya bisa puluhan tahun (sambil cengar-cengir)