(Bahasa)How to build symbiosis mutualism between tourism industry and surrounding ambient is our topic in research category this time.
Almost all Bali tourism businessmen need good surrounding ambient to support their business, most of them use the gift of nature as their main business aspect. In simple word is as their product for sale.
To do this, tourism business need more and upgrade innovation to sale the service. But unfortunately, most of them still use “shift about” system (move to other place when the first place no more profit) just like our monkey ancestor (hunting and collecting).
But by the time, the nature did not have enough time for regeneration. Automatically the company looks like use the nature as one time use asset. In the end, both tourism businessmen and surrounding citizen will bankrupt. The tourism business loss their business asset, while surrounding citizen already contaminated by the tourism culture and almost impossible to make it back just like in the pass.
If this condition continues, we all can predict in next 10 - 20 years, Bali will arrive in economic, tourism and agriculture crisis.
If we think in calm and cool, there is a lot of way to avoid the above system. One good idea to make symbiosis mutualism between tourism business and surrounding ambient is by rent or buy their field and give the right of use to the owner or ex owner to use the field for agriculture or whatever it belong before. This system is not just a theory, some tourism business in Bali already use the system.
Another unique sample is, there is one hotel make double lobby roof. When someone in the surrounding citizen die, the village citizen doing the ngaben (Balinese traditional cremation ceremony) through the hotel lobby. Because the lobby roof is open, there is no problem for the bade (Balinese traditional transportation for dead people with more then 3 meter high) to through away. Than what is the profit for the hotel? Is a unique facility for the quest to see the ngaben ceremony from the hotel lobby or their room. No direct sunlight, no dust, just put the camera on the tripod and record the procession in air conditional room while the citizen get the shortcut way.
With symbiosis mutualism system we hope to stop “shift about” system while keep the nature stability.
For you who have good idea for other symbiosis mutualism system please write down your idea on our replay/respond form. Every idea is one big step for the better future.
Simbiosis mutualisme industri pariwisata dengan lingkungan sekitarnya, itulah topik kita pada postingan di kategori research kali ini.
Bagi para pelaku industri pariwisata khususnya yang berada di Bali, sangat tidak dapat dilepaskan dengan yang namanya lingkungan atau alam sekitarnya. Banyak dari mereka yang memanfaatkan keindahan alam sekitar sebagai aset yang dapat diunggulkan atau dalam bahasa bisnisnya “dijual”
Ini dengan sendirinya tidak dapat dihindarkan, karena semakin kedepan persaingan dunia indutri pariwisata juga semakin kompleks yang menuntut inovasi ?inovasi baru dalam menjual jasa mereka. Karena seperti yang kita ketahui ini masuk kedalam bisnis pariwisata yang menuntut banyak pembaharuan agar ujung - ujungnya tidak ada yang merugi.
Namun seiring perkembangan zaman, pemanfaatan lingkungan sekitar malah menjadi hubungan timbal balik yang buruk. Dengan sendirinya si pelaku industri pariwisata ini seolah-olah hanya menikmati keindahan alam sekitar tersebut tanpa memperdulikan kondisinya, lalu setelah dirasa sudah tidak menjual lagi maka dengan sendirinya pelaku industri pariwisata berpindah ketempat yang lebih baik dengan pemandangan yang masih alamai.
Sangat mengenaskan memang bila ada pelaku industri pariwisata yang masih menerapkan sistem ladang berpindah sepeti ilustrasi diatas. Tidak adanya hubungan yang terjalin baik antara pelaku industri pariwisata terutama yang bergerak dibidang akomodasi dengan lingkungan sekitar, menyebabkan dua komponen ini sama-sama merugi. Pelaku industri dirugikan karena tingkat hunian tamu/wisatawan menurun karena merasa pemandangan alam sekitarnya sudah tidak menarik untuk dinikmati, disisi lain lahan pertanian dan kehidupan masyarakat sekitar sudah terlanjur “terkontaminasi” dan hampir tidak mungkin untuk dikembalikan seperti semula - sebelum industri pariwisata menjamah lingkungan tersebut. Apabila kegiatan seperti ini terus terjadi, maka dapat kita prediksi bersama dalam kurun waktu 10 - 20 tahun lagi Bali akan mengalami krisis, baik dalam bidang ekonomi, pariwisata maupun pertanian.
Jika dipikirkan secara masak, banyak cara yang dapat ditempuh untuk meninggalkan sistem ?ahan berpindah?bagi pelaku industri pariwisata. Salah satunya dengan cara mengadakan perjanjian dengan sipemilik lahan di sekitar hotel atau villa, misalnya seperti sawah, kebun dll untuk tepat mengadakan kegiatan bertani maupun berkebun seperti sediakala sementara mereka memperoleh reward atau income dari pihak hotel atau villa tersebut. Gampangnya, bisa diistilahkan pelaku industri pariwisata menyewa lahan tersebut untuk tetap digunakan sebagai lahan pertanian oleh si pemilik lahan.
Atau dengan membeli lahan tersebut sebagai aset perusahaan, dan memberikan hak guna pakai kepada bekas pemilik lahan untuk memanfaatkan lahan tersebut sebagaimana sebelumnya.
Cara yang diterangkan di atas bukanlah sekedar teori muluk, namun sudah diterapkan oleh beberapa pelaku industri pariwisata di Bali. Contoh lain yang unik, ada sebuah hotel yang membuat atap lobinya bisa dibuka. Dimana ketika ada masyarakat yang meninggal dunia dan melakukan upacara ngaben (upacara pembakaran mayat), masyarakat setempat melalui lobi hotel tersebut, dengan dibukanya atap lobi tentunya tidak ada masalah bagi bade (trasportasi tradisional pengangkut mayat dengan tinggi diatas 3 meter) untuk melaluinya. Lalu apa untungnya bagi hotel tersebut? Ternyata tamu hotel tersebut (yang jelas bukan orang bali dan sangat ingin melihat prosesi pengabenan) menyambut fasilitas hotel tersebut dengan antusias sebagai suguhan pandangan langsung prosesi pengabenan dari lobi atau kamar mereka.
Dengan adanya sistem yang saling menguntungkan ini diharapakan kita dapat menghentikan sistem ?adang berpindah?sekalligus menjaga stabilitas lingkungan.
Nah bagi teman-teman remaja sekalian, kira-kira ada ide nggak untuk membuat dua komponen penting di dunia industri pariwisata di Bali ini agar lebih baik. Saran dan ide teman-teman sangat kami harapkan untuk tetap menjadikan pulau Bali sebagai pulau surga (paradise islands). Tentunya kita semua tidak ingin kelak berlibur kebali untuk melihat puing-puing bekas fasilitas industri pariwisata bukan?
Bagi teman-teman semua, silahkan untuk menyampaikan ide atau pemikiran kreatifnya di form komen di bawah.
Tags: nature, Research, tourism
Posted in Research by
KlepOn79 on September 4th, 2008
Leave a Reply
September 5th, 2008 at 2:28 pm
Wah bagus juga tuh.
kalo saya sih belum ada ide, tapi saya tau kalo Ena Dive, salah satu operator diving Sanur - Bali rutin mengadakan under water clean up di pantai Sanur. Dan pernah juga melakukan beberapa kali transplantasi karang. Selain itu relawan yang ikut serta aksi mereka juga di kasih makan siang nasi bungkus yang uenak tenan… tapi sayang saya sekarang gak punya waktu buat ikutan sedih deh hik hik